Laman

Salat Sunah Qabliyah Maghrib ??

0 komentar


Adakah kesunahan melakukan salat sunah Qabliyah atau sebelum Maghrib? Anggota Kormas Surabaya Timur

Jawaban:
Mari kita memperhatikan hadis-hadis berikut:
- قَالَ عَبْدُ اللَّهِ الْمُزَنِىُّ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « صَلُّوا قَبْلَ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ » . - قَالَ فِى الثَّالِثَةِ - لِمَنْ شَاءَ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً (رواه البخارى رقم 1183)
Abdullah Al-Muzani berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Salatlah kalian sebelum salat Maghrib”. Rasulullah bersabda dalam bilangan ketiga: “Bagi orang yang mau”, Khawatir orang-orang menjadikannya sebagai sebuah sunah” (HR al-Bukhari No 1184)

- قَالَ مَرْثَدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْيَزَنِىَّ قَالَ أَتَيْتُ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ الْجُهَنِىَّ فَقُلْتُ أَلاَ أُعْجِبُكَ مِنْ أَبِى تَمِيمٍ يَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ . فَقَالَ عُقْبَةُ إِنَّا كُنَّا نَفْعَلُهُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - . قُلْتُ فَمَا يَمْنَعُكَ الآنَ قَالَ الشُّغْلُ (رواه البخارى رقم 1184)
“Martsad bin Abdullah al-Yazani berkata: Saya mendatangi Uqbah bin Amir al-Juhani, sayaberkata: “Saya kagum kepada anda dari Abu Tamim yang salat 2 rakaat sebelum Maghrib.” Uqbah berkata: “Sungguh kami melakukannya di masa Nabi Saw”. Saya bertanya: “Apa yang menghalangi anda sekarang?”. Uqbah menjawab: “Sibuk” (HR al-Bukhari No 1184)
al-Hafidz Ibnu Hajar mengutip penegasan al-Muhib ath-Thabari:
هَذََا اَلْحَدِيْثُ مِنْ أَقْوَى اَلْأَدِلَّةِ عَلَى اِسْتِحْبَابِهَا (فتح الباري لابن حجر – ج 4 / ص 183)
“Hadis ini (riwayat Uqbah) adalah dalil yang paling kuat akan kesunahan salat sebelum Maghrib” (Fath al-Bari 4/183)

Dibagian lain al-Hafidz Ibnu Hajar juga mengutip penegasan al-Qurthubi:
وَقَالَ الْقُرْطُبِيّ وَغَيْرُهُ : ظَاهِرُ حَدِيْثِ أَنَسٍ أَنَّ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَقَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ كَانَ أَمْرًا أَقَرَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْحَابَهُ عَلَيْهِ وَعَمِلُوا بِهِ حَتَّى كَانُوا يَسْتَبِقُونَ إِلَيْهِ ، وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ ، وَكَأَنَّ أَصْلَهُ قَوْلهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ " . وَأَمَّا كَوْنُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُصَلِّهِمَا فَلَا يَنْفِي الِاسْتِحْبَابَ ، بَلْ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُمَا لَيْسَتَا مِنْ الرَّوَاتِبِ . وَإِلَى اِسْتِحْبَابِهِمَا ذَهَبَ أَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ وَأَصْحَابُ الْحَدِيثِ (فتح الباري لابن حجر - ج 2 / ص 432)
“al-Qurthubi dan lainnya berkata: Dzahirnya hadis Anas bahwa 2 rakaat sesudah dan sebelum Maghrib merupakan perintah yang diakui oleh Rasulullah Saw kepada para sahabatnya, mereka melakukannya, hingga mereka berlomba-lomba melakukannya. Ini menunjukkan kesunahan tersebut. Seolah dasarnya adalah sabda Nabi Saw: “Diantara adzan dan iqamah ada salat”. Sedangkan Rasulullah yang tidak pernah melakukannya tidak berarti menafikan kesunahannya. Namun menunjukkan bahwa Qabliyah Maghrib tersebut bukan salat Rawatib (sunah muakkadah). Atas pendapat kesunahan tersebut dikemukakan oleh Ahmad, Ishaq bin Rahwaih dan para ahli hadis” (Fath al-Bari 4/183)

Untuk memperkuat dalil diatas, al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:
وَقَدْ رَوَيْنَا عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ أَنَّهُمْ كَانُوْا يُصَلُّوْنَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ ، ثُمَّ أَخْرَجَ ذَلِكَ بِأَسَانِيْدَ مُتَعَدِّدَةٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ اِبْنِ أَبِي لَيْلَى وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ وَيَحْيَى بْن عَقِيْلٍ وَالْأَعْرَجِ وَعَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ وَعِرَاكِ بْنِ مَالِكٍ (فتح الباري لابن حجر - ج 2 / ص 432)
“Sungguh kami telah meriwayatkan dari sekelompok para sahabat dan tabi’in bahwa mereka melakukan salat sunah sebelum Maghrib. Kemudian Muhammad bin Nashr meriwayatkan hal tersebut dengan sanad yang banyak dari Abdurrahman ibni Abi Laila, Abdullah bin Buraidah, Yahya bin Aqil, al-A’raj, Amir bin Abdullah bin Zubair, dan Irak bin Malik” (Fath al-Bari 4/183)

Berdasarkan hadis-hadis dan pendapat ahli hadis, hukumnya adalah sunah namun bukan termasuk sunah muakkadah (yang dikuatkan) seperti dalam Madzhab Syafiiyah.
Ahli fikih dalam madzhab Syafiiyah, Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami berkata:
وَقِيلَ مِنْ السُّنَنِ رَكْعَتَانِ خَفِيفَتَانِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ لِمَا يَأْتِي قُلْت هُمَا سُنَّةٌ غَيْرُ مُؤَكَّدَةٍ عَلَى الصَّحِيحِ (تحفة المحتاج في شرح المنهاج - ج 7 / ص 248)
“Diakatakan, diantara sunah adalah 2 rakaat yang ringan sebelum Maghrib. Saya berkata: 2 Rakaat tersebut sunah yang tidak muakkadah, menurut pendapat yang sahih” (Tuhfat al-Muhtaj 7/248)

Perlu diketahui, dalam Madzhab Syafiiyah ada 2 istilah untuk salat sunah Rawatib, baik sebelum atau seduah salat wajib, yaitu sunah muakkadah (dikuatkan/dianjurkan):
وَالْمُؤَكَّدُ مِنَ الرَّوَاتِبِ عَشْرٌ، وَهُوَ رَكْعَتَانِ قَبْلَ صُبْحٍ وَظُهْرٍ وَبَعْدَهُ وَبَعْدَ مَغْرِبٍ وَعِشَاءٍ. (فتح المعين – ج 1 / ص 287)
“Salat Rawatib yang dikuatkan ada 10, yaitu 2 rakaat sebelum Subuh, Sebelum Dzuhur, Sesudah Dzuhur, Sesudah Maghrib dan Sesudah Isya” (Fathul Muin 1/287)

Dan sunah ghairu muakkadah (tidak dikuatkan):
وَخَرَجَ بِالْمُؤَكَّدِ مِنْهَا غَيْرُهُ، هُوَ اثْنَا عَشْرَةَ رَكْعَةً: رَكْعَتَانِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهُ، وَأَرْبَعٌ قَبْلَ الْعَصْرِ، وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ الْعِشَاءِ. (إعانة الطالبين – ج 1 / ص 288)
“Sunah ghairu muakkadah ada 12, yaitu 2 rakaat sebelum dan sesudah Dzuhur, 4 rakaat sebelum Ashar, 2 rakaat sebelum Maghrib dan sebelum Isya” (Ianat ath-Thalibin 1/288)