Laman

Pesan Untuk Para Santri

0 komentar



Sudah seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama. Bagaimanakah nasib ummat ini, jika generasi penerusnya seakan sudah tidak begitu peduli dengan agama?. Hal yang demikian dapat kita saksikan dengan merosotnya pesantren yang sangat drastis. Ada yang berfikir pesantren itu kolot, ada yang berfikir pesantren itu seperti kafir Quraisy, hanya mengekor pada induknya, Ada yang berfikir pesantren itu anaknya munafik, setiap hari mengaji, tapi terkadang kelakuanya tidak mencerminkan santri.

Dan masih banyak lagi argumen-argumen lain yang memang disengaja untuk melemahkan pesantren dan dicari-cari kesalahannya. Kalo ada hal seperti ini, mari kita buka mata dan hati, mari bertanya pada nurani, siapa yang salah? Apa pesantrennya yang salah? apa para guru dan kiyai yang tidak bisa mendidiknya? tentu TIDAK !!!, Itu semua kesalahan dia sendiri. Dia tahu akan perbuatannya. Dia tahu bahwa - Misalnya - itu perbuatan yang tidak baik, tapi karena kebandelannya, dia tetap melakukannya.

Jika anda seorang santri, maka anda bukan hanya sekedar siswa, pelajar atau mahasiswa, sekalipun anda - terkadang - perlu bersifat seperti mereka. Dalam belajar, kita selalu mengejar nilai kemanfaatan ilmu, bukan hanya sekedar formalitas ilmiyyah. Bagi saya, ijazah bukanlah harga mati yang membuat kita harus membanting tulang, berlari dan berdarah-darah untuk mengejar dan meraihnya.

Mari kita berfikir, Bukankah dinegara-negara yang sudah maju sekarang ini sudah tidak mutlak lagi mementingkan ijazah?! Yang penting kenyataan prestasi kerjanya. Kita sendiri tentu lebih percaya pada orang yang walaupun tidak ber-ijazah tapi hasil kerjanya bagus, dari pada ijazahnya tinggi tapi hasil kerjanya tidak memuaskan.

Mari kita berfikir lagi, ijazah bisa dipalsukan, bisa dibuat dalam waktu satu jam. Akan tetapi ilmu dan kemanfaatan? siapa coba yang bisa membuatnya? apa presiden bisa membuatnya? apa bupati bisa membuatnya? apa orang kaya bisa membuatnya? Tentu tidak bisa, karena hanya Allah yang bisa membuatnya dan menganugerahkannya pada siapa yang dikehendaki-Nya, dengan jalan menuntut ilmu.

Bukankah mengejar sesuatu yang hanya bisa dibuat oleh Allah itu lebih tingi nilainya dari pada yang bisa dibuat manusia?! Saya kira anda semua sudah tahu jawabannya.

Selaku Santri, kita tidak perlu gusar dan galau terhadap pengaruh gejolak sosial, budaya atau pola pikir yang biasanya disebut modern. Tidak perlu mengatakan " saya santri modern, dia santri tradisional " dan lain-lain. Karena hal tersebut malah akan memicu perpecahan dalam kalangan pesantren sendiri. Marilah kita tabah dan yakin bahwa dengan bekal kesantrian yang sempurna, cukuplah untuk menghadapi dan menyelesaikan segala masalah.

Santri adalah kader tunas pengganti ulama. Ulama adalah orang alim yang Alloh memberikan kemanfaatan Ilmu kepadanya. Betapa banyak ayat dan hadist yang menerangkan keutamaan orang yang mencari ilmu. Sebagian dari ayat al-qur'an adalah firman Allah " Sesungguhnya, takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya, yaitu para ulama ". Dan juga firman-Nya " Apakah sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui "??? Dan juga Firman-Nya " Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dari kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pada beberapa derajat ".

Bukankah Allah tak pernah mengingkari janji-Nya?! Bukankah kehidupan dunia hanyalah kemewahan yang menipu?! Ayat-ayat ini seharusnya menjadi benteng kita, agar " Himmah Aliyah " kita tidak surut dan tetap terbina.

Dalam belajar agama, juga tidak asal-asalan menuntut ilmu, tidak asal-asalan mendapatkan dengan segala macam cara dengan tanpa memperhatikan melanggar adab belajar atau tidak. Ta'limul Muta'allim, tentu tidak asing lagi ditelinga kita. Dalam kitab Mizan Al-Amal, Akhlaq Al-Ulama dan lain-lain, kita bisa mendapatkan bimbingan dalam menuntut ilmu. Ilmu yang benar-benar bermanfaat di dunia dan akhirat. Antara lain sebagai berikut :

* Buang jauh akhlak tercela, hiasi diri dengan akhlak mulia, dan sucikan jiwa dari segala yang dosa.

* Jangan terlalu berkecimpung ditengah urusan harta dunia. Lebih-lebih jika dalam menuntut ilmu itu kita berniat mendapatkan harta dunia. Ilmu pengetahuan yang bisa dipelajari akal itu ada dua : pengetahuan agama dan pengetahuan harta dunia. Keduanya ibarat jalan raya, yang satu membentang kearah timur dan satunya kearah barat. Bisakah berjalan ketimur dan sampai dibarat? atau berjalan kebarat dan sampai ditimur? atau sekali berjalan langsung sampai ditimur dan dibarat?
Pada umumnya tidak bisa. Tetapi jika berjalan kebarat sebagai sarana untuk mendapatkan yang ditimur atau sebaliknya, mungkin bisa ditempuh.

* Buang jauh-jauh rasa sudah pandai dan lebih mengetahui dari pada sang guru.
* Jangan meremehkan suatu bidang ilmu. Sebab ilmu itu saling berkait, saling bersambung dan saling menjelaskan.
* Urutkan ketertiban belajar. Pertama yang terpenting, jika sudah bisa, baru yang nomor dua, lalu nomor tiga dan seterusnya. Jangan serta merta seluruh ilmu akan ditelan sekaligus.

Mari...
Tepiskan mimpi-mimpi tak berarti
Teguhkan cita dan asa
Kita hidup bukan untuk menanti
Duduk termenung menunggu

Tak mungkin kita terpilih
Bila dunia lebih didamba
Terlupa kampung halaman
Sanak Saudara
Bahkan harta yang terpendam
Untuk sementara
Demi kehidupan Ukhrawi
Kebahagiaan yang abadi.

Tak mungkin kita terpilih
Jika yang fana' lebih dicinta
Terlupa akan kemilau dunia
Dan remangnya lampu kota
Lezatnya makanan
Juga lajunya makar durjana
Untuk sementara
Demi kehidupan ukhrawi
Kebahagiaan yang abadi


Maka...
Marilah kita sadar
Untuk apa kita tercipta.