Syukur dan Kebersamaan


مجمع الزوائد ومنبع الفوائد . محقق - (ج 5 / ص 262)
وعن النعمان بن بشير قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم على هذه الأعواد - أو على هذا المنبر - :
"من لم يشكر القليل لم يشكر الكثير ومن لم يشكر الناس لم يشكر الله عز وجل،والتحدث بنعمة الله شكر،وتركها كفر والجماعة رحمة والفرقة عذاب". رواه عبد الله بن أحمد والبزار والطبراني ورجالهما ثقات


Rasulullah bersabda: "Barang siapa tidak mensyukuri sesuatu yang kecil, maka tidak akan mensyukuri yang besar. Barang siapa tidak bersyukur kepada manusia, maka tidak akan bersyukur kepada Allah. Menceritakan nikmat Allah adalah syukur dan meninggalkannya adalah kufur (nikmat). Berjamaah adalah rahmat dan berpecah belah adalah siksa" (HR Abdullah ibnu Ahmad, al Bazzar dan al Thabrani, para perawinya terpercaya)

Posted by
hamba Allah

More

Kutipan‬ Rubrik Khaniqah Sufi - Imam al-Ghazali_ Ihyâ’ Ulumiddîn

Pernyataan Imam Hasan al-Bashri, pemuka sufi dari generasi Tabiin :
أَدْرَكْنَا أَقْوَاماً لَوْ رَأَيْتُمُوْهُمْ لَقُلْتُمْ مَجَانِيْنُ، وَلَوْ رَأَوْكُمْ لَقَالُوْا شَيَاطِيْنُ
Aku pernah semasa dengan beberapa orang (Sahabat Nabi ). Seandainya kalian melihat (tingkah laku) mereka, maka niscaya kalian akan berkata, “Mereka itu orang-orang gila.” Namun, seandainya mereka melihat (tingkah laku) kalian, maka niscaya mereka akan berkata, “Mereka itu tak ubahnya setan.”
Orang-orang saleh, seringkali tampak sangat aneh di mata masyarakat, karena kecenderungan, kesenangan, cara berpikir, dan tujuan hidupnya memang tidak sejalan dengan kecenderungan masyarakat secara umum. Karena itulah, Imam al-Ghazali, khususnya dalam Ihyâ’ Ulumiddîn, cukup sering mengutip sabda Nabi Muhammad :
أَكْثَرُ أَهْلِ الجَنَّةِ البُلْهُ
Yang paling banyak menghuni surga adalah orang-orang dungu. (HR al-Bazzar dari Anas bin Malik).
Dungu yang dimaksud di sini jelas sekali bukan dungu dalam semua hal. Imam al-Ghazali menyatakan, yang dimaksud oleh Rasulullah adalah dungu (lugu) dalam urusan duniawi. Orang yang paling mudah masuk surga adalah orang yang tidak terlalu menghiraukan kepentingan-kepentingan duniawinya; tidak marah jika haknya diambil oleh orang lain; tidak sedih jika ada hak miliknya hilang; tidak risau jika dia menjual dengan murah atau membeli dengan mahal; dan lain sebagainya. Biasanya, orang yang bertipe seperti ini, dalam pandangan masyarakat secara umum, dianggap sebagai orang yang dungu. Padahal, sejatinya mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki hutang kesalahan kepada sesama manusia (al-haqq al-adami), justru orang lain yang memiliki banyak hutang kesalahan kepada dia. Orang yang mendatangi Hari Pembangkitan dengan status tidak memiliki hutang kesalahan kepada orang lain, berarti dia telah menginjakkan satu kakinya di surga.
___________________________________________
‪#‎Kutipan‬ Rubrik Khaniqah Sufi - Imam al-Ghazali_ Ihyâ’ Ulumiddîn.
#AnaPost_Sufi

Posted by
hamba Allah

More

Puasa Sunah Dzulhijjah ( Puasa Tarwiyah & ‘Arofah)



Puasa sunah untuk bulan Dzulhijjah (dalam kalender Islam), dilaksanakan 2 hari sebelum tanggal 10
Dzulhijjah (Idul Adha) atau biasa dikenal dengan lebaran haji yaitu tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah. Tanggal 8 Dzulhijah dinamakan puasa Tarwiyah dan tanggal 9 Dzulhijah dinamakan puasa Arafah. Puasa sunah Tarwiyah dan Arafah sangat dianjurkan, agar kita dapat turut merasakan nikmatnya seperti yang dirasakan oleh para jama'ah haji.
Puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah yaitu hari pada saat jama'ah haji melakukan wukuf di padang Arafah.
Puasa Tarwiyah adalah puasa yang dilaksanakan pada hari tarwiyah yakni 8 Dzulhijjah, hari sebelum hari wukuf.

Adapun keutamaan puasa sunah Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan 'arafah (9 Dzulhijjah) berdasarkan beberapa hadist adalah:
1. Puasa Tarwiyah dapat menghapus dosa satu tahun silam yang telah terlewati.
2. Sedangkan puasa hari 'arafah memiliki keutamaan yaitu dapat menghapus dosa dua tahun (1 tahun lalu dan 1 tahun yang akan datang)
صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ عَاشُوْرَاَء يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً
“Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat” . (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qotadah)
DO'A NIAT PUASA TARWIYAH
نويت صوم ترويه سنة لله تعالى 
NAWAITU SAUMA TARWIYAH SUNNATAN LILLAHI TA'ALAH
“ Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta'ala”

DO'A NIAT PUASA ARAFAH
نويت صوم عرفة سنة لله تعالى
NAWAITU SAUMA ARAFAH SUNNATAN LILLAHI TA'ALAH
“ Saya niat puasa Arafah , sunnah karena Allah ta'ala"
Bagi kaum Santri yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan juga disarankan untuk mengerjakannya pada hari Arafah ini, atau hari-hari lain yang disunnahkan untuk berpuasa. Maka ia akan mendapatkan dua pahala sekaligus, yakni pahala puasa wajib (qadha puasa Ramadhan) dan pahala puasa sunnah. :
يُعْلَمُ أَنَّ اْلأَفْضَلَ لِمُرِيْدِ التَطَوُّعِ أَنْ يَنْوِيَ اْلوَاجِبَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِ وَإِلَّا فَالتَّطَوُّعِ لِيَحْصُلَ لَهُ مَا عَلَيْهِ
Diketahui bahwa bagi orang yang ingin berniat puasa sunnah, lebih baik ia juga berniat melakukan puasa wajib jika memang ia mempunyai tanggungan puasa, tapi jika ia tidak mempunyai tanggungan (atau jika ia ragu-ragu apakah punya tanggungan atau tidak) ia cukup berniat puasa sunnah saja, maka ia akan memperoleh apa yang diniatkannya.






Posted by
hamba Allah

More

Dalam Genggaman Kasih





Setahun berlalu, nuansa itu masih sama tak berubah
Khayalan semu yang menjalar di hati seolah terkoyak 
oleh keegoisan yang meluluh rantahkan kasih
Haruskah bibir ini bungkam sebagai isyarat ketidak pedulian diri?
Menanti jawaban atas penantian yang tak pasti kapan akan berakhir
Tangan ini membeku, 
sejalan dengan dinginnya hatiku menjemput bayang wajahmu
Senyuman itu, 
Aku lupa bagaimana cara tersenyum!
Disaat nestapa menghentak diri yang rapuh
Hanya air mata yang bisa menghiasi luka
Ajarkan Aku bagaimana memajang tawa
Saat duka lara hanya bisa menjadi alas atas keangkuhan hati yang terus menepi
Ajarkan Aku bagaimana menghapus air mata
Saat bulir bahagia mampu mengganti dekapan keji yang setia menemani
Detik ini, kasih enggan menampakkan keramahan pada diri
Genggamannya seolah merenggang bersama waktu yang berusaha memisahkan kita
Ajarkan Aku bagaimana menghancurkan tembok pendusta
Yang selalu bertopeng bijak pada tipu muslihat
Dimana keadilan kasih yang akan diberi?
Kala detik berputar menunjukkan betapa kejam si ego hati
Ajarkan Aku, bagaimana caranya tersenyum?
Saat bibir telah membeku oleh dinginnya hati yang tak seperti ku kenal dulu
Ajarkan Aku, tuk terus bertahan dalam genggaman kasih yang ingin selalu ku ingin
Dalam genggaman kedamaian yang tak ingin ku akhiri


011014

Posted by
hamba Allah

More

Kembalikan Ayahku!



Sesekali kuarahkan pandangan ini di ujung jalan
Menanti langkah kaki yang kuharap akan datang tuk menghampiri
Ku bingkai lentera rindu dengan do'a yang kulantunkan hanya tuk sosok di pinggir jalan itu
Kabut tlah menghalangi pandanganku
Tak mampu kumengenali siapa sosok perkasa yang berdiri tepat di depan wajahku
Bukan,
Dia bukan orang yang kunanti selama ini
Mengapa tak ada gurat kerinduan yang kuharap akan menghiasi wajah tuahnya?
Siapa dia?
Ikatan batin seorang ayah tak kurasakan pada sosok yang tengah berdiri di hadapanku
Dimana sosok yang selalu kunantikan?
Dia bukan seseorang yang kehadirannya kurindu
Mengapa mataku perih saat melihat wajah itu?
Dimana ayahku!
Dimana Dia!
Kembalikan Ayahku!
Jangan biarkan penantianku selama ini adalah semu
Jangan hadiahkan kepalsuan narasi tentang latar belakangnya
Jangan berikan aku kenyataan manis yang pada dasarnya pahit
Dimana ayahku!
Dimana sosok yang selalu kurindu itu?
Kembalikan ayahku!


= = RN= =

Posted by
hamba Allah

More

Muslimahku


Ia tidak harus berbalut sutera untuk terlihat menawan ketika busana panjang tanpa gantungan hiasan
mampu menembus kabut pesona zaman
Ia tidak harus mendongakkan kepala untuk menyirat kehormatan ketika ketundukan hati dan pandangan
menempatkan diri pada kemuliaan
Ia tidak harus berhiaskan intan berlian untuk meraih keanggunan ketika cahaya kesabaran akan meluruhkan kelembutan
Dan butiran tasbih mulai menghitung nilai kesantunan
Titian menuju ridha-Mu memang tidak dihiasi mawar, melati dan sedap malam
Sekali saja masih tercium harumnya
Karena mungkin masih ada terjaga
perilaku dan lisannya
Perjalanan ke sana sungguh panjang dan meletihkan Hanya mendung dan pelangi, hanya gelap dan terang
saling berganti menemani harinya
Illahi, tanpa keridhoan itu bisakah sedekah, sholat dan sujudnya
mengantar diri ke ujung pengembaraan pada-Mu...


== RN==





Posted by
hamba Allah

More

HUKUM - Ucapan Selamat Hari Raya dan Panjang Umur

Ucapan selamat dan doa di hari raya adalah Mustahab (sunah), sebagaimana dijelaskan oleh ulama Azhar, Syaikh Sulaiman al-Jamal asy-Syafii:
وَعِبَارَةُ الْبِرْمَاوِيِّ وَالتَّهْنِئَةُ بِالْأَعْيَادِ وَالشُّهُورِ وَالْأَعْوَامِ مُسْتَحَبَّةٌ وَيُسْتَأْنَسُ لَهَا بِطَلَبِ سُجُودِ الشُّكْرِ عِنْدَ حُدُوثِ نِعْمَةٍ وَبِقِصَّةِ كَعْبٍ وَصَاحِبَيْهِ حِينَ بُشِّرَ بِقَبُولِ تَوْبَتِهِ لَمَّا تَخَلَّفَ عَنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ وَتَهْنِئَةِ أَبِي طَلْحَةَ لَهُ وَتُسَنُّ الْإِجَابَةُ فِيهَا بِنَحْوِ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنْكُمْ أَحْيَاكُمْ اللَّهُ لِأَمْثَالِهِ كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ انْتَهَتْ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ (حاشية الجمل - ج 6 / ص 264)
“Redaksi al-Birmawi: Ucapan selamat dalam hari raya, bulan dan tahun baru adalah mustahab. Hal ini didasarkan dengan sujud syukur saat mendapat nikmat dan dengan kisah Ka’b bin Malik dan kedua temannya di saat mendapat kabar gembira atas diterimanya taubatnya ketika Ka’b tidak mengikuti perang Tabuk, lalu Abu Talhah mengucapkan selamat kepadanya (HR al-Bukhari). Dan dianjurkan menjawab ucapan selamat dengan semisal: Semoga Allah menerima ibadah kalian dan memberi kehdupan sepertinya setiap tahun dan kalian dengan yang lebih baik” (Hasyiah al-Jamal 6/264)
Bahkan doa semacam ini telah menjadi kebiasaan para sahabat, sebagaimana riwayat yang disampaikan oleh ahli hadis al-Hafidz Ibnu Hajar al-Syafii:
وَرَوَيْنَا فِي " الْمَحامِلِيَّاتِ " بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ " كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك " (فتح الباري لابن حجر - ج 3 / ص 372)
“Kami meriwayatkan dalam al-Mahamiliyah dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nafir. Ia berkata: Para sahabat Nabi Saw jika berjumpa di hari raya, maka mereka saling mengucapkan Semoga Allah menerima ibadah kami dan anda” (Fath al-Bari 3/372)
Sementara ucapan selamat dalam ulang tahun, saya hanya masih menemukan doa panjang umur seperti penjelasan Syaikh Zakariya al-Anshari:
( وَأَمَّا الطَّلْبَقَةُ ) أَيْ التَّحِيَّةُ بِهَا وَهِيَ أَطَالَ اللَّهُ بَقَاءَك ( فَقِيلَ بِكَرَاهَتِهَا ) قَالَ الْأَذْرَعِيُّ وَفِيهِ نَظَرٌ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ : إنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ أَوْ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ وُلَاةِ الْعَدْلِ فَالدُّعَاءُ لَهُ بِذَلِكَ قُرْبَةٌ وَإِلَّا فَمَكْرُوهٌ بَلْ حَرَامٌ (أسنى المطالب - ج 20 / ص 395)
“Adapun doa ‘Semoga Allah memberi umur panjang bagimu’, ada yang mengatakan makruh. Al-Adzra’i berkata: Pendapat ini perlu ditinjau lagi. Bahkan sebaiknya diputuskan: “Jika seseorang tersebut adalah orang saleh, berilmu atau pemimpin yang adil, maka mendoakannya dengan panjang umur adalah ibadah. Jika bukan seperti itu, maka makruh bahkan haram” (Asna al-Mathalib 20/395)
Jika melihat metode berdalil dengan riwayat Ka’b bin Malik mendapat sambutan dan ucapan selamat dari para sahabat, maka boleh, sebagaimana disampaikan oleh ahli hadis al-Hafidz Ibnu Hajar al-Syafii:
وَفِيهَا مَشْرُوعِيَّة سُجُود الشُّكْر ...وَتَهْنِئَة مَنْ تَجَدَّدَتْ لَهُ نِعْمَة ، وَالْقِيَام إِلَيْهِ إِذَا أَقْبَلَ ، وَاجْتِمَاع النَّاس عِنْد الْإِمَام فِي الْأُمُور الْمُهِمَّة (فتح الباري لابن حجر - ج 12 / ص 238)
“Dalam riwayat ini, disyariatkan untuk sujud syukur... juga mengucapkan selamat kepada seseorang yang baru mendapat nikmat, berdiri menyambutnya, dan berkumpulnya orang-orang dengan pemimpin dalam urusan-urusan penting” (Fath al-Bari 12/238)

Posted by
hamba Allah

More

Copyright © / CATATAN ANA SANTRI

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger