Sudah seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama. Bagaimanakah nasib
ummat ini, jika generasi penerusnya seakan sudah tidak begitu peduli
dengan agama?. Hal yang demikian dapat kita saksikan dengan merosotnya
pesantren yang sangat drastis. Ada yang berfikir pesantren itu kolot,
ada yang berfikir pesantren itu seperti kafir Quraisy, hanya mengekor
pada induknya, Ada yang berfikir pesantren itu anaknya munafik, setiap
hari mengaji, tapi terkadang kelakuanya tidak mencerminkan santri.
Dan masih banyak lagi argumen-argumen lain yang memang disengaja untuk
melemahkan pesantren dan dicari-cari kesalahannya. Kalo ada hal seperti
ini, mari kita buka mata dan hati, mari bertanya pada nurani, siapa yang
salah? Apa pesantrennya yang salah? apa para guru dan kiyai yang tidak
bisa mendidiknya? tentu TIDAK !!!, Itu semua kesalahan dia sendiri. Dia
tahu akan perbuatannya. Dia tahu bahwa - Misalnya - itu perbuatan yang
tidak baik, tapi karena kebandelannya, dia tetap melakukannya.
Jika anda seorang santri, maka anda bukan hanya sekedar siswa, pelajar
atau mahasiswa, sekalipun anda - terkadang - perlu bersifat seperti
mereka. Dalam belajar, kita selalu mengejar nilai kemanfaatan ilmu,
bukan hanya sekedar formalitas ilmiyyah. Bagi saya, ijazah bukanlah
harga mati yang membuat kita harus membanting tulang, berlari dan
berdarah-darah untuk mengejar dan meraihnya.
Mari kita berfikir, Bukankah dinegara-negara yang sudah maju sekarang
ini sudah tidak mutlak lagi mementingkan ijazah?! Yang penting kenyataan
prestasi kerjanya. Kita sendiri tentu lebih percaya pada orang yang
walaupun tidak ber-ijazah tapi hasil kerjanya bagus, dari pada ijazahnya
tinggi tapi hasil kerjanya tidak memuaskan.
Mari kita berfikir lagi, ijazah bisa dipalsukan, bisa dibuat dalam waktu
satu jam. Akan tetapi ilmu dan kemanfaatan? siapa coba yang bisa
membuatnya? apa presiden bisa membuatnya? apa bupati bisa membuatnya?
apa orang kaya bisa membuatnya? Tentu tidak bisa, karena hanya Allah
yang bisa membuatnya dan menganugerahkannya pada siapa yang
dikehendaki-Nya, dengan jalan menuntut ilmu.
Bukankah mengejar sesuatu yang hanya bisa dibuat oleh Allah itu lebih
tingi nilainya dari pada yang bisa dibuat manusia?! Saya kira anda semua
sudah tahu jawabannya.
Selaku Santri, kita tidak perlu gusar dan galau terhadap pengaruh
gejolak sosial, budaya atau pola pikir yang biasanya disebut modern.
Tidak perlu mengatakan " saya santri modern, dia santri tradisional "
dan lain-lain. Karena hal tersebut malah akan memicu perpecahan dalam
kalangan pesantren sendiri. Marilah kita tabah dan yakin bahwa dengan
bekal kesantrian yang sempurna, cukuplah untuk menghadapi dan
menyelesaikan segala masalah.
Santri adalah kader tunas pengganti ulama. Ulama adalah orang alim yang
Alloh memberikan kemanfaatan Ilmu kepadanya. Betapa banyak ayat dan
hadist yang menerangkan keutamaan orang yang mencari ilmu. Sebagian dari
ayat al-qur'an adalah firman Allah " Sesungguhnya, takut kepada Allah
dari hamba-hamba-Nya, yaitu para ulama ". Dan juga firman-Nya " Apakah
sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui "??? Dan juga
Firman-Nya " Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dari
kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pada beberapa derajat ".
Bukankah Allah tak pernah mengingkari janji-Nya?! Bukankah kehidupan
dunia hanyalah kemewahan yang menipu?! Ayat-ayat ini seharusnya menjadi
benteng kita, agar " Himmah Aliyah " kita tidak surut dan tetap terbina.
Dalam belajar agama, juga tidak asal-asalan menuntut ilmu, tidak
asal-asalan mendapatkan dengan segala macam cara dengan tanpa
memperhatikan melanggar adab belajar atau tidak. Ta'limul Muta'allim,
tentu tidak asing lagi ditelinga kita. Dalam kitab Mizan Al-Amal, Akhlaq
Al-Ulama dan lain-lain, kita bisa mendapatkan bimbingan dalam menuntut
ilmu. Ilmu yang benar-benar bermanfaat di dunia dan akhirat. Antara lain
sebagai berikut :
* Buang jauh akhlak tercela, hiasi diri dengan akhlak mulia, dan sucikan jiwa dari segala yang dosa.
* Jangan terlalu berkecimpung ditengah urusan harta dunia. Lebih-lebih
jika dalam menuntut ilmu itu kita berniat mendapatkan harta dunia. Ilmu
pengetahuan yang bisa dipelajari akal itu ada dua : pengetahuan agama
dan pengetahuan harta dunia. Keduanya ibarat jalan raya, yang satu
membentang kearah timur dan satunya kearah barat. Bisakah berjalan
ketimur dan sampai dibarat? atau berjalan kebarat dan sampai ditimur?
atau sekali berjalan langsung sampai ditimur dan dibarat?
Pada umumnya tidak bisa. Tetapi jika berjalan kebarat sebagai sarana
untuk mendapatkan yang ditimur atau sebaliknya, mungkin bisa ditempuh.
* Buang jauh-jauh rasa sudah pandai dan lebih mengetahui dari pada sang guru.
* Jangan meremehkan suatu bidang ilmu. Sebab ilmu itu saling berkait, saling bersambung dan saling menjelaskan.
* Urutkan ketertiban belajar. Pertama yang terpenting, jika sudah bisa,
baru yang nomor dua, lalu nomor tiga dan seterusnya. Jangan serta merta
seluruh ilmu akan ditelan sekaligus.
Mari...
Tepiskan mimpi-mimpi tak berarti
Teguhkan cita dan asa
Kita hidup bukan untuk menanti
Duduk termenung menunggu
Tak mungkin kita terpilih
Bila dunia lebih didamba
Terlupa kampung halaman
Sanak Saudara
Bahkan harta yang terpendam
Untuk sementara
Demi kehidupan Ukhrawi
Kebahagiaan yang abadi.
Tak mungkin kita terpilih
Jika yang fana' lebih dicinta
Terlupa akan kemilau dunia
Dan remangnya lampu kota
Lezatnya makanan
Juga lajunya makar durjana
Untuk sementara
Demi kehidupan ukhrawi
Kebahagiaan yang abadi
Maka...
Marilah kita sadar
Untuk apa kita tercipta.